Etika Antri vs Pandai Matematika

 Seorang guru di Australia pernah berkata:
“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Kerena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya.

Inilah jawabannya:

Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.
Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.
”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;”

Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.

dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.

Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.
dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga?

Ah sayang sekali ya…. padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?

Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

Ah sayang sekali ya… Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral?

Ah sayang sekali ya… seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini?

Tulisan ini diambil dari sebuah akun jejaring sosial dari Mien R. Uno Fondation.

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta.
Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.
Mari kita ajari generasi muda kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik… 

 

Semusim ..

Angun timur mulai bergerak ke barat..

Udara kering menjadi lembab yang memuakkan.

Dan berganti semilir sejuk seiring datangnya awan mendung yang menggantung di balik ranring-ranting pohon beringin..

Bersama daun-daun kering hasil dari musim panas yang luar biasa,

aku duduk menengadah pada ranting pohon yang sehelai daun nya sedang terombang ambingkan angin..

Menunggu nasibnya unutk berkumpul dengan daun-daun kering lainnya.

 

Musim panas yang kering sedang menunggu musim dingin untuk menggantikannya..

Rumput-rumput yang mengering sedang menunggu tunasnya untuk kembali bersemi..

dan, Taman kota yang telah lama tak terawat sedng menunggu hujan untuk membasahinya..

 

 

Ya, semua nya sedang menunggu..

menunggu sesuatu yang akan datang dan melakukan perubahan..

seperti rakyat yang masih dengan setia nya menunggu para pemimpin melakukan perubahan..

 

Pandangan semakin gelap ke depan..

Yang kita butuhkan adalah sebuah penerang,,

Seorang penerang lebih tepatnya.

tapi rupanya mereka terlalu sibuk untuk menerangi diri mereka sendiri..

Itukah yang harus kulalukan?

Menerangi diriku sendiri…begitu pula kalian harus menerangi diri kalian masing-masing?

Tidak,

Aku butuh kamu,,

Aku butuh kalian..

Aku terlalu takut menerangi diriku sendiri karena akan tersilaukan oleh cahaya yang telah kubuat sendiri..

Dan berjalan sempoyongan tak tau arah,,

Kemudian tertatih-tatih..dan terjatuh setelah tak bebebrapa lama.

 

Ketika aku meminta sedikit cahaya untuk menerangi jalanku,,

Mereka terlalu banyak bertanya,

terlalu banyak mengumpat,

bergumam..lalu mendesah panjang..

Sangat memuakkan.

 

Kita tentu ingin semua berjalan sesuai impian yang kita tulis dalam goresan pola masa depan..

Tapi terkadang ego itu mampu mendominasi langkah dan pemikiran kita..

Dan itulah yang sedang terjadi,

dulu dan sekarang..

berulang kali dan tak mau pergi.

 

Kita terlalu lelah pada semua ini,,

pada ego.. emosi.. amarah.. dan ketidakjujuran pada diri sendiri.

 

Andaikan kita di pertemukan dalam satu titik warna putih yang merupakan gabungan dari seluruh warna yang ada..

Mungkin cahaya penerang jalan kita akan lebih terang dan indah..

Karena tak terbiaskan oleh warna lain yang kontras dan membuat jalanan terlihat berbeda dari yang sesungguhnya..

 

Kita belum siap pada semua warna yang akan mengaburkan pandangan..

Kita hanya mempersiapkan diri untuk satu warna saja..

Sehingga ketika ada warna lain yang mencoba membiaskan jalan, kita mudah terjatuh dan harus tertatih-tatih untuk kembali berjalan..

 

Aku inginkan kita siap untuk berjalan pada semua kemungkianan warna  di sepanjang fase perjalanan menuju masa depan..

Entah itu nantinya kita berjalan bersama-sama,

atau kita berjalan masing-masing.

 

 

 

Satu Dalam Jamak

bhineka-tunggal-ika-300x300

Manusia,,

ada yang bilang terlalu sulit untuk menyatukan semua pemikiran manusia yg ada di bumi ini..

lalu mereka berkoloni masing-masing dengan orang-orang yang mereka anggap “sama” dengan mereka..

setiap kelompok menganggap kelompok lain berbeda..

mereka anggap diri mereka “eksklusif”.

sebenarnya kita tak bisa membentuk dunia sendiri,,

sebenarnya kita tak punya dunia sendiri,,

sebenarnya kita tak menciptakan dunia sendiri..

setiap manusia mengenali manusia lain..

dengan cara mereka berjalan,

cara mereka berbicara,

cara mereka menyelesaikan masalah,

bahkan cara mereka merenung..

itu semua karena kita mempunyai struktur jiwa yang sama,

kita punya jiwa yang satu..

kita satu dalam jamak,

kita pelangi dalam bias cahaya putih,

kita berbeda dalam sama.

Tempat yang (tak) aman

Jika melihat segelas McFlurry coklat .. Mungkin akan mengingatkan ku pada diskusi panjang mengenai cara hidup yang kami tempuh..

Sambil menikmati lampu jalanan, suasana riuh kota Jogja di malam hari, dan manisnya McFlurry yang menenangkan.. diskusi mengarah pada kehidupan dan cara hidup yang berbeda,,sangat berbeda..

Mungkin langkah-langkah yang ia tempuh untuk melewati jalan kehidupan ini kuanggap suatu cara yang lemah, pasif, skeptis, apatis, pengecut, atau apalah itu..

 

Tapi aku tahu, itu adalah cara yang ‘aman’, bahkan mungkin yang paling aman untuk menjalani kehidupan ini..

Konsekuensinya? : kau tidak bergerak, kau aman, dan kau tertinggal..

 

Jika kita memilih memilih kehidupan yang lebih baik..jauh lebih baik..

Maka lubang tempat kita terperosok akan semakin dalam …menyakitkan, dan menghancurkan..

Tapi puncak tempat kita berdiri nantinya akan sangat tinggi..begitu tinggi , menjulang, dan kokoh.

Karena kita telah menghadapi terjal dan kerasnya batu-batu jalan menuju puncak itu..

 

Jika kita memilih untuk berada di tempat yang ‘aman’, tidak bergerak.. Maka kita akan tetap berada di tempat yang aman, tanpa takut terperosok ke lubang yang dalam..

Atau pun tertimpa bebatuan karena kita tak perlu naik ke atas puncak..

 

Tapi yang perlu kita ketahui,,

Orang-orang yang memilih untuk berada di tengah-tengah, di tempat yang ‘aman’.. Lama kelamaan, mereka tak akan lagi berada di tengah ..

Tapi di dalam lubang yang sama tempat orang-orang yang telah terperosok.

Mungkin orang-orang ini tidak mengalami suatu masa dimana mereka merasakan sakitnya jatuh ke dalam lubang..

Tapi orang-orang ini juga akan tiba di lubang tersebut, karena tanpa mereka sadari saat mereka menikmati tempat mereka yang aman, ternyata orang-orang yang berjuang menghadapi terjalnya bebatuan menuju puncak telah berada disana,,di puncak..

Bahkan berlomba-lomba menaiki puncak yang lebih tinggi, sangat tinggi, dan jauh lebih tinggi lagi..

Sehingga orang-orang yang ‘aman’ , yang dulu berada di tengah-tengah..kini terlihat jauh di bawah,sangat dalam..Seperti halnya orang-orang yang jatuh ke bawah.

 

Sedangkan orang-orang yang jatuh ternyata mereka tak berhenti,

Mereka kembali merangkak ke atas menuju puncak.

Dan akhirnya..

Yang berada di bawah ..di lubang yang jauh di dalam, tempat orang-orang yang dulu terperosok, kini di huni oleh mereka yang tersisa..

Mereka yang tak bergerak..

Mereka yang mencari ‘aman’.

Senja

Image

Senja yang indah di Pantai Kuwaru..

Semburan jingga tergores di langit kebiruan kelam dengan keteraturan yang sangat rancak.

 

Senja yang damai di Pantai Kuwaru..

Sungguh tenang dan sepi..seolah membungkam hiruk pikuk jalanan kota yang sesak oleh para pencari nafkah yang akan kembali setelah seharian berusaha tetap mengepulkan asap di dapur..

 

Senja yang menipu di Pantai Kuwaru..

Entahlah,,tapi kurasa..semua keindahan itu tak akan pernah menenangkan dengungan kendaraan di kemacetan kota atau dengungan yang muncul dari dalam hati dan pikiran sendiri.

 

Senja itu indah, damai, dan menipu..

Senja yang menunjukkan kebesaran-NYA.. yang tak mampu di lukis oleh siapapun bahkan pelukis sekelas Leonardo DaVinci.

Senja yang menunjukkan bahwa kita pun membutuhkan ‘keikhlasan’ untuk merasakan ‘ketenangan’.

Senja yang menunjukkan bahwa kita pun membutuhkan ‘kelapangan hati’ untuk melihat ‘kedamaian’.

 

 

Adakah makna..?

Keyakinanku ini membuatku menerimanya sebagai keadaan yang lazim diterima mayoritas orang-orang terdidik pada saat ini..

Hal ini di ekspresikan dalam istilah “kemajuan”.

Kemudian tampak bagi diriku bahwa istilah ini berarti sesuatu.

Masih belum ku pahami bagaimana tersiksanya diriku oleh pertanyaan bagaimana yang terbaik bagiku untuk hidup..jawaban yang menyesakkan adalah hidup menyesuaikan diri dengan kemajuan..

Bukan hanya dengan akal, melainkan dengan naluri pula,,

aku memberontak terhadap tahayul ini,yang lazim pada masa sekarang..

yang menjadi tameng persembunyian orang-orang dari diri sendiri atas kekurangpahaman terhadap kehidupan.

Penentu yang baik dan yang jahat bukan apa yang dikatakan dan dilakukan orang,

juga bukan kemajuan yang tercapai..

Melainkan, itu adalah aku dan hatiku.

 

Tipuan kenikmatan hidup yang sebelumnya menenangkan ku,kini tak lagi menipuku..

Tak peduli betapa sering aku diberitahu: “Kau tak bisa memahami makna hidup, jadi jangan memikirkannya, tapi jalani saja..”

toh kata-kata itu tak bisa lagi kulakukan.. Aku telah melakukannya terlalu lama.

Kini aku tak berdaya melihat siang dan malam berlalu dan membawa ku menuju kematian.

Inilah yang kulihat, karena semua itu benar…lainnya palsu.

 

Mungkin memang menyenangkan untuk melihat kehidupan di dalam cermin..

Tapi ketika aku mulai mencari makna kehidupan dan meninggalkan kebutuhan untuk hidupku sendiri..cermin bagiku menjadi tak perlu, berlebihan, menggelikan, dan menyakitkan.

Aku tak bisa lagi menenangkan diri sendiri dengan apa yang kini ku lihat di dalam cermin,,yaitu sikap ku bodoh dan putus asa.

 

Bolehlah menikmati penglihatan ketika di kedalaman jiwa aku percaya bahwa hidupku bermakna,,Lalu permainan lampu-lampu, lucu, indah, dan mengerikan dalam kehidupan menghiburku..

Tapi ketika ku tahu hidupku tak bermakna dan mengerikan, semua permainan di cermin tak mampu lagi menghiburku.

 

Jika ku pahami sederhana bahwa kehidupan tak punya makna, mungkin aku telah memikulnya diam-diam karena tahu bahwa itu nasibku..

Tapi aku tak bisa memuaskan diri sendiri dengan itu.

 

Andai aku seperti wanita yang tinggal di hutan dimana ia tahu bahwa tak ada jalan keluar, aku bisa menjalaninya.

Tapi aku seperti orang yang tersesat di dalam hutan yang takut kehilangan jalan lalu bergegas,,berharap menemukan jalan..

Padahal ia tahu tiap jalan dan langkah yang diambil nya membingungkan dan makin membingungkan..tapi ia tetap tak berdaya dan bergegas.

Juni 2011

Pagi itu masih kulihat rapi bajumu
Masih kucium rana aroma wangi tubuh yang setiap waktu ku kenal
Pagi itu, mataku terbuka sayu melihat riuh suara radio kesayangan yang tak pernah berhenti menghibur
Pagi itu, seperti biasa masih kudengar suara lirih lantunan syair nasehatmu yang s’lalu kau tanam pada buah hati kecilmu

Gagah tubuhmu seakan terganti oleh dirimu yang sudah letih merawatku
Dalam bayang, aku selalu berfikir bahwa kaulah pahlawan
Tak pernah sekalipun kau ucapkan lelah
Jangkar-Jangkar kapal tak bergerak diterpa ombak melihat kegigihanmu

Kau anugerah,
Kau Nyawa dalam darahku,
Kau lah nafas hidup yang memberikan kelembutan belaian kasih tak ternilai,
Kau adalah sejuta jawaban do’a para makmum mu

Sampai Tuhan memberikan aku pilian
Menuntunku perlahan, lalu jatuh dan tergilas
Atau menamparku keras, lalu menunjukan arah tujuan
Hingga waktu menjawab, “Kau Pantas berdiri”.

Tak pernah kusadari bahwasanya akulah sang pemilih,
Tak pernah kusadari saat itu nafasku hilang
Tertunduk haru melihatmu berselimut hangat untuk selamanya
Sekejap kau hilang, kau pergi tapi tak bersembunyi
Bersemayam jauh dalam hati terdalam layaknya quantum inti atom

Engkau bersemayam meninggalkan luka yang tak pernah bisa ku obati.
Setiap waktu, setiap detik dekapanku untukmu melantun dari bibir lewat do’a demi do’a,
Setiap ayat yang ku panjatkan mengajariku makna sebuah waktu.
Bahwa Waktu, Cinta kasih, tak lebih dari sebuah ciptaan,
Seperti Aku dan Engkau.

-SaifulRohman-

“aku, “kau”, dan Jalan yang berbeda..

Mungkin waktu yang terlalu cepat melangkah
Atau “Aku” yang tak pernah menoreh mu wahai “sang waktu”
Sore itu “kau” menyentuh, membelaiku dengn penuh harapan yang memang ku yakini pasti, seperti apa yang kau janjikan..

Tapi malam ini takdir berkata lain.
Kau berjalan dengan lantunan jejak dentuman keras “kaki”.
Kau meninggalkan “aku” tertatih letih terperangah lelah.
Sambil mengangkat dahi dan kepala “ku” tinggi2 akan kuberikan senyum terindahku.

“Aku” Tahu “Kau” akan Bahagia. Atas Nama Tuhan dan cinta kasih “Ku” 🙂

 

 

-SaifulRohman-

Industri Ideologi

Puluhan jurnal dan buku berbicara mengenai popular culture, culture industries, dan mass media..

Mereka berbicara bagaimana suatu budaya mampu diciptakan dalam ‘pabrik-pabrik’ industri,

Dan membentuk suatu ideologi sesorang hanya dengan menggunakan budaya massa..

 

Sebenarnya, tak ada masalah menciptakan suatu ‘budaya’ untuk memenuhi kebutuhan manusia akan hiburan dan tontonan..

Tapi ketika penciptaan itu sengaja di bangun untuk mencetak para ‘dewa’ dan ‘dewi’ entertain, masih wajarkah??

 

Para tangan-tangan pencetak industri budaya ini,awalnya,memberikan hiburan bagi para pencari kebahagiaan semu..

Menciptakan sosok-sosok ‘sempurna’ untuk dijadikan sebagai idola..

Mendorong para ‘pemuja’ ini untuk mengkonsumsi produk-produk yang bergambar atau hanya sekedar bertuliskan nama sang idola..

Membentuk rasa ikatan (yang seolah-olah) kuat diantara keduanya dengan menghadirkan sang idola melalui konser atau sekedar meet ‘n greet..

Pada akhirnya, mereka akan membentuk ideologi dari para pemuja ini..

Ideologi yang menjaga agar ‘pabrik-pabrik’ mereka tetap mengepulkan budaya populer..

Image

Kegelisahan Pemikir Bebas..

Diantara keriuhan orang-orang bersorak-sorai mengenai materi dan duniawi..
Aku mencoba bersenandung bersama kesunyian di pojok kamar , berbicara mengenai identitas, ideologi, dan idealisme..

Hari ini aku bertemu dengan banyak orang yang berseru mengenai kebenaran-kebenaran yang mereka bilang itu adalah kebenaran yang hakiki..
Mereka bersandar pada apa yang mereka bilang ‘kitab pedoman hidup’..
Kebenaran-kebenaran itu, menurut mereka, adalah hasil dari penerjemahan-penerjemahan yang telah matang dan mendalam..
kebenaran yang harusnya ‘diakui dan diikuti’ oleh masyarakat..
Kebenaran yang mampu membentuk pola masyarakat yang lebih baik..

Ketika aku bertanya apakah yang mereka sebut kebenaran itu mampu mengatasi masalah hidup rakyat?
Mereka jawab ‘iya’..
Ketika aku bertanya apakah pola masyarakat yang akan mereka bentuk itu mampu menciptakan pola kehidupan yang sejahtera untuk masyarakat?
Mereka jawab ‘tentu’..
Dan, ketika aku bertanya, apakah rancangan masyarakat yang mereka buat itu mampu merangkul seluruh element masyarakat? Apakah mereka bisa bersikap ‘sama’ pada orang-orang yang ‘berbeda’ dengan mereka?
Mereka ‘mengangguk’..

Semua terlihat meyakinkan, pasti, dan dapat diandalkan..
Tapi mengapa ketika aku bertanya pada sang waktu..ia terdiam, menunduk, dan memberiku tulisan dengan tinta hitam dan coretan tak beraturan..
Aku (dulu) tak meragukan setiap konsep yang telah di sodorkan..setiap pemikiran yang di diskusikan bersamaku..karena itu semua, ku yakini, sesuatu yang obyektif dan yang paling penting tidak mengkultuskan sesuatu.. Mampu mengemudikan pikiran untuk tidak bermain-main dengan kekolotan dan kefanatikan..
Beberapa diantara mereka sama sekali tak menyia-nyiakan pemberian Tuhan berupa akal..
Konsep yang telah terbentuk adalah hasil dari kolaborasi yang sangat apik dari kerja akal dan ajaran…

Di hari lain, aku bercengkerama mengenai hal yang sama dengan beberapa orang yang dianggap ‘mumpuni’ dalam hal itu..
Mereka memicingkan mata ketika aku mempertanyakan itu semua..
Mereka bilang aku ini tidak mensyukuri hidup, seharusnya aku bersyukur pada apa yang telah aku dapatkan dan cukup menjalankan perintah yang telah di berikan, bukannya malah mempertanyakan itu semua dan menghabiskan waktu untuk bergumul dengan sesuatu yang mereka anggap tidak perlu ‘dipertanyakan’ lagi..
Dan mereka semakin menggeleng-gelengkan kepala ketika aku mencoba untuk semakin memperdalam kegelisahanku akan semua pertanyaan itu..
Ketika aku keluar dari lubang diskusi yang ‘memilukan’ ini, aku merasa seperti membuka kotak ‘pikiran bebas’ yang sempat tersumbat selama aku berada di lubang itu..

Jika di era orde baru ada sosok A.Wahib dan Soe Hok Gie yang selalu gelisah akan akan hakikat hidup dan kehidupan,,
Kini..masih adakah sosok-sosok pemuda seperti mereka yang terus mempertanyakan segala bentuk masalah yang bergelayut di tengah masyarakat?
Masih adakah orang-orang yang tidak memicingkan mata ketika mendengar pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat diri, hidup, dan kehidupan?

Semuanya kini tertata dan telah terpola sebelumnya..
Para pemikir bebas kini hanya berpikir sampai pada ambang batas batin mereka sendiri..
Membelenggu pikiran-pikiran mereka sendiri,,
Entah karena ingin ‘sama’ dengan kebanyakan orang, atau agar ‘diterima..

Aku bahkan tak tahu mereka buang kemana pikiran-pikiran bebas yang telah muncul,
Semua mencoba buta..memilih menjadi buta..
Membiarkan segala kegelisahan-kegelisahan dalam kotak kecil dengan gembok duniawi..
Merelakan yang ‘indah’ dengan sesuatu ‘yang sepertinya indah’..
Merubah yang ‘benar’ menjadi sesuatu ‘yang dianggap benar’

sedikit mengutip dari Catatan Harian A. Wahib: “Saya kira, orang-orang yang tidak mau berpikir bebas itu telah menyianyiakan hadiah Allah yang begitu berharga, yaitu otak.
Saya berdoa agar Tuhan memberi petunjuk pada orang-orang yang tidak menggunakan otaknya
sepenuhnya.
Dan, saya pun sadar bahwa para pemikir bebas itu adalah orang-orang yang senantiasa gelisah. Kegelisahan itu memang dicarinya.
Dia gelisah untuk memikirkan macam-macam hal terutama hal-hal yang dasariah dengan semata-mata berpijak pada objektivitas akal.
Dalam kenyataannya, dalam praktik berpikir sekarang ini, kita tidak berpikir bebas lagi.”